Mari kita terus merenung


Aku menulis lagi. Mencari nafsuku. Mencari nafsumu. Yang masih hidup dan mengalir didalam kelaparan puasa. Lihatlah dia makin tersiksa. Biarkan dia tersiksa. Biarkan dia lara. Kerana dia kita mengunung dosa. Kerana dia amal kita tertahan diawangan.

Seminggu telah berlalu. Lapar dan lapar. Namun nafsu kita tidak pernah mati. Ibnu ataillah berkata;

“Setiap kali nafsu itu mati, maka Allah akan menghidupkan nafsu yang lain hingga ia juga mati hingga pedang kita menitiskan darah mujahadah ….”

Begitulah dia. Seperti anak meminta dimanjakan. Meski kita mematahkan ia, akarnya akan terus hidup menguji kesabaran kita.

Puasa itu sajalah kelemahannya. Ramadan itulah sangkar siksaannya!

Aku tahu. Ada yang menghirup udara malam Ramadan ini dan ada yang menghirup udara sahurnya dengan zikir zikir dan tahmid cinta tapi masih ada lagi yang tidak terasakan …

Ada antara kita yang kesat ruhi. Keras dan kematu. Malah setitis airmata pun tidak mampu kita titiskan apalagi untuk memejamkan mata menghayati kegelapan … untuk membayangi kubur yang datang!

Wahai sahabat yang dikasihi,

Seperti biasa Ramadan akan terus menantikan komitmen kita semua untuk mengisi ruang ruang tarbiyah didalam diri dan jiwa kita.

Kasihnya Ramadan kepada kita bertaburan bagai manik manik mutiara yang menghiasi rambut sang bidadari …

Ramadan sentiasa mengajak kita untuk memohon ampunan dan belai kasihNya.

Ingatkah lagi masa dan waktu kita dulu telah berlalu.

Namun kisah kisah kemaksiatan dan duka duka lalu tidak akan pernah melupai kita. Meski kepenatan kita melakukan maksiat telah hilang dari kita, namun keringat keringat dosa dan noda tetap tidak akan terpadam, malah kemas tercatit dilembaran lembaran malaikat yang disimpan di pendrive Raqibun Atid.

Kita juga pasti telah lupa akan dosa dosa lalu tapi sebenarnya dosa dosa kita melekat keras dalam qalbu kita dan akan terus mengeras umpama iceberg yang tidak boleh diruntuhkan oleh ombak ombak amal yang dhaif yang telah kita lakukan.

Oleh itu ikhwah,

Jangan kita biarkan malam malam kita terus kesejukan dan terus mengeras, seperti kerasnya hati kita yang akan menjadi kembar kita waktu dipanggil dan diusap oleh malakatul maut sebelum diusung keliang lahat dan menjadikan kita penunggu terowong barzah yang dipenuhi oleh asap asap api jahannam.

Buat lah satu perubahan, satu tekad, satu azam yang benar benar dapat dinilai oleh Allah sebagai amal yang qowi..

Sukarkah kita untuk berubah dan mengimfakkan diri ini untuk RabbulJalil dimalam rahmat kurniaannya?

Tidak cukupkah kelazatan dunia yang telah kita terokai?

Apa lagi yang kita cari akhi?

Tinggalkanlah segala kelazatan sebelum kelazatan dunia meninggalkan kita.

Adalah lebih manis kita meninggalkan kelazatan dari kelazatan meninggalkan kita.

Buangkanlah bayang keindahan dunia yang selama ini hadir dalam keheningan khayal kita.

Jangan kita biarkan graviti bumi terus menarik kita hingga kita terpana dengan keindahannya lalu kita lupakan akan keindahan langit yang penuh dengan keajaiban dan janji israq wal mikraj.

Kamu tidak akan dapat menerokai langit selagi mana kamu menyintai bumi.

Langit memerlukan kesucian hati dan batin seperti Hati Rasul dan para sahabatnya untuk kamu menerokainya.

Oleh itu tiada jalan lagi kecuali melalui proses tarbiyah dzatiyah yang berterusan tanpa henti.

Mari kita bina madrasah ruhiyah dalam hati kita agar ianya sentiasa dilaungi azan dan iqamah merenggut urat dan nadi kita sepertimana para mujahidin ikhwan membina madrasah al-banna didalam hati mereka.

Mereka menghayati madrasah itu sehingga mereka dapat menyucikan hati mereka menjadi rijal rijal yang sufi, yang syahid, yang dai, yang murabbi dan yang dapat menyambung wasiat Rasul!

Apakah mustahil untuk kita lakukan?

Tidak sama sekali.

Selagi sunatullah berjalan selagi itu keajaiban akan berlaku melalui sunnaturasulNya!

Akhi

meski sekali puistis bait bait ini tapi fahamilah ianya adalah satu peringatan untuk kita melakukan perubahan kerana pastinya usia kita semakin kepenghujung!

Mari kita renung dan tenung agar kita tidak terus termenung!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: