Ratap


Kawanku kata, bila mengadap alquran aku seperti seorang pengadu!

Betulkah begitu riak riak muka ku? Aku pun tak tahu.

Atau mungkin ratap lirihku pada lekukan tajwid itu menyeret wajah ku seperti seorang pengadu!

Memang kekadang perasaanku luluh lantak mengingat masa lalu bila terjelma dosa dosa yang sengaja ku lakukan disebab kejahilan dengan hukum hakam justru quran banyak membayangkan kesalahan kesalahan aku hingga jiwa ku melayang sehalus halusnya.

Dimana lagi harus ku campakkan kesedihan itu, kalau tidak dihadapan wahyu itu?

Mungkin sebab itu meraka melihat ku seperti pengadu, seperti orang yang ditakluk, seperti orang yang yang kelelahan berjuang melawan rasa kehilangan seluruh insan yang kucintai.

Dosa bukan perkara main main! Tanpa hidayah dan usaha yang berterusan pasti kita terlupa akan dosa dosa kita justru akan mengelapkan jiwa sehingga amalan yang kita lakukan berhujung dengan kelelahan tanpa kemanisan dan nikmat yang menatijahkan kelemahan dan sifat ghurur.

Kenapa kita amat sukar mengendali hati?

Terkadang kita terfikir, kenapa telah lama menjadi da’i. Ditarbiyah, dicanai, digodam dan ditaram dengan pelbagai cara oleh murabbi kita, kita masih terus terusan begini?

Deru kemaksiatan terus menganas memasuki perbuatan dan ruang hati dan ruhi kita tanpa kita sedar.

Memang semua ini tidak cukup sekadar kita muhasabah, renungi, kutuki dan ratapi! Kita harus terus memberi ubat terapi yang sesuai dengan sakitnya!

Sakit yang kita alami ini sebenarnya ialah kita lupa akan mati! Lupa akan pertemuan dengan lubang kubur. Lupa pertemuan dengan mungkar dan nakir. Lupa sakaratul maut dan lupa akan lubang panas dialam barzah yang menyambung ke neraka jahannam!

Penyakit lupa kematian inilah yang selalu membuatkan kita sentaisa relaks dan santai seolah kematian ini amat jauh dari kita sedangkan berpuluh kali malaikat maut sering menziarahi kita siang maupun malam.

Aku bukan ingin negatifkan kehidupan ini tapi terkadang dalam hidup ini kita perlu check and balance terhadap kehidupan kita dan check and balance bagi kehidupan ini adalah mengingat mati! Yup. Sebuah kematian yang pasti kita temui.

Muga kita terus muhasabah ya?

muharrikdaie

One response to “Ratap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: