renungan untuk ditenung


Aku menulis lagi. Mencari nafsuku. Mencari nafsumu. Yang masih hidup dan mengalir didalam kelaparan puasa. Lihatlah dia makin tersiksa. Biarkan dia tersiksa. Biarkan dia lara. Kerana dia kita mengunung dosa. Kerana dia amal kita tertahan diawangan.

Lima hari telah berlalu. Lapar dan lapar. Namun nafsu kita tidak pernah mati. Ibnu ataillah berkata;

Setiap kali nafsu itu mati, maka Allah akan menghidupkan nafsu yang lain hingga ia juga mati hingga pedang kita menitiskan darah mujahadah ….

Begitulah dia. Seperti anak meminta dimanjakan. Meski kita mematahkan ia, akarnya akan terus hidup menguji kesabaran kita.

Puasa itu sajalah kelemahannya. Ramadan itulah sangkar siksaannya!

Aku tahu. Ada yang menghirup udara malam Ramadan ini dan ada yang menghirup udara sahurnya dengan zikir zikir dan tahmid cinta tapi masih ada lagi yang tidak terasakan …

Ada antara kita yang kesat ruhi. Keras dan kematu. Malah setitis airmata pun tidak mampu kita titiskan apalagi untuk memejamkan mata menghayati kegelapan … untuk membayangi kubur yang datang!

Wahai sahabat yang dikasihi,

Seperti biasa Ramadan akan terus menantikan komitmen kita semua untuk mengisi ruang ruang tarbiyah didalam diri dan jiwa kita.

Kasihnya Ramadan kepada kita bertaburan bagai manik manik mutiara yang menghiasi rambut sang bidadari …

Ramadan sentiasa mengajak kita untuk memohon ampunan dan belai kasihNya.

Ingatkah lagi masa dan waktu kita dulu telah berlalu.

Namun kisah kisah kemaksiatan dan duka duka lalu tidak akan pernah melupai kita. Meski kepenatan kita melakukan maksiat telah hilang dari kita, namun keringat keringat dosa dan noda tetap tidak akan terpadam, malah kemas tercatit dilembaran lembaran malaikat yang disimpan di pendrive Raqibun Atid.

Kita juga pasti telah lupa akan dosa dosa lalu tapi sebenarnya dosa dosa kita melekat keras dalam qalbu kita dan akan terus mengeras umpama iceberg yang tidak boleh diruntuhkan oleh ombak ombak amal yang dhaif yang telah kita lakukan.

Oleh itu ikhwah,

Jangan kita biarkan malam malam kita terus kesejukan dan terus mengeras, seperti kerasnya hati kita yang akan  menjadi kembar kita waktu dipanggil dan diusap oleh malakatul maut sebelum diusung keliang lahat dan menjadikan kita penunggu terowong barzah yang dipenuhi oleh asap asap api jahannam.

Buat lah satu perubahan, satu tekad, satu azam yang benar benar dapat dinilai oleh Allah sebagai amal yang qowi..

Sukarkah kita untuk berubah dan mengimfakkan diri ini untuk RabbulJalil dimalam rahmat kurniaannya?

Tidak cukupkah kelazatan dunia yang telah kita terokai?

Apa lagi yang kita cari akhi?

Tinggalkanlah segala kelazatan sebelum kelazatan dunia meninggalkan kita.

Adalah lebih manis kita meninggalkan kelazatan dari kelazatan meninggalkan kita.

Buangkanlah bayang keindahan dunia yang selama ini hadir  dalam keheningan khayal kita.

Jangan kita biarkan graviti bumi terus menarik kita hingga kita terpana dengan keindahannya lalu kita lupakan akan keindahan langit yang penuh dengan keajaiban dan janji israq wal mikraj.

Kamu tidak akan dapat menerokai langit selagi mana kamu menyintai bumi.

Langit memerlukan kesucian hati dan batin seperti Hati Rasul dan para sahabatnya untuk kamu menerokainya.

Oleh itu tiada jalan lagi kecuali melalui proses tarbiyah dzatiyah yang berterusan tanpa henti.

Mari kita bina madrasah ruhiyah dalam hati kita agar ianya sentiasa dilaungi azan dan iqamah merenggut urat dan nadi kita sepertimana para mujahidin ikhwan membina madrasah al-banna didalam hati mereka.

Mereka menghayati madrasah itu sehingga mereka dapat menyucikan hati mereka menjadi rijal rijal yang sufi, yang syahid, yang dai, yang murabbi dan yang dapat menyambung wasiat Rasul!

Apakah mustahil untuk kita lakukan?

Tidak sama sekali.

Selagi sunatullah berjalan selagi itu keajaiban akan berlaku melalui sunnaturasulNya!

Akhi

meski sekali puistis bait bait ini tapi fahamilah ianya adalah satu peringatan untuk kita melakukan perubahan kerana pastinya usia kita semakin kepenghujung!

Mari kita renung dan tenung agar kita tidak terus termenung!

muharrikdaie – menulis untuk mengerakkan jiwa jiwa

8 responses to “renungan untuk ditenung

  1. sahabat hijau August 11, 2011 at 8:35 am

    nice entry.
    dalam beramal segalanya diuji.
    moga Ramadhan membuka lembaran baru
    dalam mengikis sisi-sisi jahiliyah.

  2. dr.mujahidah August 5, 2011 at 1:58 am

    subhanallah.. graviti bumi setiap hari menarik kita untuk menjadikan kita terpana pada dunia sehingga lalai apa tugas kita pada Yang Maha Kuasa.

  3. ibunoor August 5, 2011 at 1:27 am

    Salam muharrikdaie,

    How have you been dear brother? May the Almighty Allah is shedding HIS ‘nur’ upon you.

    I would like to wish Ramadhan Mubarak to you and all the readers here. We hope to reap all the blessings and clemency and of course… we make loads of du’as to come in face with the Night of Power (LailatulQadr) insyaAllah… amin…

    • muharrikdaie August 5, 2011 at 12:26 pm

      Oh … yus. Thanks for the du’a. Kamu juga lama menghilang. Blog tak update. Resepi pun tak der yg baru. Sibuk dgn study agaknya! Camaner dgn hero hero kamu dan hubby kamu? Agar semuanya dalam lindungan Allah selalu. Insyaalah

      • ibunoor August 6, 2011 at 11:00 am

        Salam muharrikdaie,

        …”lama menghilang”…

        Well… dear brother I am still here… you may say that yes… “I am missing in action” from expressing my thoughts in my humble blog.

        I am actually taking a little break off from writing as at the moment I am focussing to contribute on a project called the Halal Executive Programme (as one of the participants) apart from doing my on-going Masters organized by the university. However, this does not mean I will forgo my passion in writting but it will take quite a while for maybe nearly till this December for me to complete this and to start writting again.

        But no worries, as my hunger to read more of yours will be one of my main motivation to get on to seek a balance in the world and the hereafter.

        Plus, with the coming of Ramadhan (apart from reaping all benefits in ibadah), I am enjoying cooking as always at home and has never bought any food from the ‘Bazaar Ramadhan’ even in the previous years. With only few homecooked, simple dishes to break the fast… alhamdulillah, we just love to spend the moment together. It’s just that I have not been updating the recipes on the blog🙂 Anyways dear brother, try looking up some recipes for ‘Green Chicken Curry’ on the net and try it. My better half; my husband love it too!

        As for both my ‘kampung boys’ they have been enjoying foods that I prepared and especially my elders; Wahbah Zuhayli, with his Malaysia appetite (like his ‘ayah’) and my youngest; Yusuf Zufayri, is with a Mediterranean appetite (like ‘ibu’). So basically I have to cater to both ‘nations’🙂

        Need zillions of your du’a and appreciate your friendship dear brother. Just keep on moving ahead insyaAllah. May Islam always be at the top our of hearts…

  4. ina August 5, 2011 at 12:51 am

    peringatan yang amat berguna jazakallah~
    Ramadhan kareem~
    teruskan menulis dengan pena ya akhi!
    moga terus ikhlas dan sabar dalam melalui ranjau hidup yang penuh onak duri

    insyaAllah
    amin~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: