selonggok kayu


ikhwah fillah

adakala bila jiwa kita terasa sayu kita selalu terfikir, apakah kesudahan hidup ini? Apakah kita telah berpuas hati dengan cerita cerita kehidupan kita. Apakah kita dapat mengelak dari mala petaka kuburan dan mala petaka jahannam yang memang pasti kita akan menghadapinya!

Bukanlah kita ingin menghitung diri ini sehingga membuat kita hanya berada didalam masjid sahaja  atau berteleku diatas sejadah dan  tidak memperdulikan alam sekeliling!

Tapi tujuan muhasabah ini adalah untuk kita merenung diri. Agar renungan itu dapat mengerakan lagi tubuh badan kita dengan seoptima mungkin untuk melakukan pembaikan demi pembaikan. Menyegerakan amal amal soleh yang masih banyak lagi tertangguh disebabkan kemalasan kita!

Kita takut dalam kita sibuk menyeru dan mentarbiyah manusia, kita terlupa diri kita  yang kekeringan ruhiyah ini  sehingga kerja kerja mentarbiyah manusia menjadi sia sia kerana tidak dapat mengesankan jiwa mereka dan tidak juga dapat meningkatkan amal kita!

Mungkin banyak orang belum mengerti, apa pentingnya ruhani dalam menjalani hidup. Barangkali kita lebih banyak terpaut dengan kehebatan dan keindahan fikrah kita, kehebatan memahami ilmu dakwah dan ilmu ilmu lahiriah ini sehingga kepala kita bengkak dengan ilmu ilmu begini ketimbang keindahan dan kehebatan ruhiyah.

Hingga terkadang kita tertipu dan terpukau dengan amal amal kita apa lagi dengan pujian manusia yang sentiasa bercambah cambah yang tak mampu kita menolaknya ditambah pula kita tidak memuhasabahkannya selalu dan inilah yang membuatkan kita terus hanyut!

Ada masa masanya perasaan kita terasa jenuh semacam kasal ruhi dan kemalasan jiwa. Kita tak tahu kenapa ini berlaku. Cuma kadang kita kata perubahan hormon tapi sebenarnya emosi kita terganggu kerana ruhiyah kita kosong.

Kita harus hati hati dengan jenak jenak kehidupan ini yang penuh dengan tipu daya.

Ikhwah fillah

Jika kita perhatikan badan kita ini. Tubuh kita ini yang masih kuat!

Apakah akan jadi padanya jika Allah menarik ruh dari tubuh ini?

Apakah ianya berharga untuk dinilai?

Atau ianya tidak ubah seperti selonggok kayu yang kaku!

Itulah bezanya jiwa kita jika kita abaikan ruhiyahnya. Akan tidak berfungsilah ia untuk melihat alam malakut. Alam akhirat, alam mahsyar dan alam yang akan kita temui nanti dan jika terhijabnya jiwa kita dari penglihatan ini, sudah tentu kita tidak akan dapat membenihkan cinta kita pada syurga Allah SWT!

Akhi fillah,

aku tak mampu untuk menulis panjang. Cuma jika ada kekesatan dihatimu, duduklah dengan orang orang yang zuhud. Duduklah dengan orang orang yang solih.

Peganglah kuat kuat ikhwah ikhwah kita yang solih solih kerana jika kita dalam keadaan taat saudara solih kitalah yang akan mendorong ketaatan kita lagi. Dalam kondisi lalai, saudara kita lah yang akan mengingatkan kita. Dalam kondisi hati kita terluka dan tersayat oleh dosa saudara kitalah yang akan mengobati kita hingga kita sembuh.

Muga muga kamu semua akan dapat kesejukan ruhani dan muga hati kamu akan putih kembali.

Masuklah kamu semua kedalam mihrabmu.

Menyepilah.

Menyendirilah dengan Allah.

Temuilah Rabbmu.

Tidak ada hijab dan tidak ada sesiapa pun yang menjadi perantara antara mu dan Rabb mu.

Renungi kembali dosa dosamu.

Pijak tanah dan hinakan dirimu. Berdirilah kamu. Angkat takbir itu. berniatlah taubat dan sujudlah pada tanah itu. Mengadulah pada Rabb mu.

Ya Rabb. Aku bertaubat pada Mu diatas semua dosa dosaku. Tanpa keampunan mu bagaimana aku mampu untuk menjadi penyeru agama mu. Bagaimana aku mampu untuk berhadapan dengan mad’u ku ! malu aku ya Rabb bila  mereka melihat aku dihina dihadapan mu lantaran dosa aku tidak terampunkan …

jumpa lagi.

muharrikdaie ~ menulis untuk mengerakan jiwa jiwa

3 responses to “selonggok kayu

  1. muharrikdaie March 24, 2010 at 2:31 pm

    Hazlin dan nuur > Terima kasih atas pujian. Muga saya bersemangat lagi dan komenlah juga yang buruk buruk pulak agar saya dapat memperbaiki tulisan saya lagi.

    Hazlin …blog awak banyak makanan favorite saya … sehingga saya tak selera dah makan mee maggi …heheh

  2. hazlinkhan March 18, 2010 at 9:40 pm

    Saudara….kamu mempunyai pengolahan ayat dan kosa kata yang begitu indah…menyentuh naluri secara halus walau tanpa suara…..

  3. nuurhati March 17, 2010 at 3:37 pm

    subhanallah! jazakallah!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: