Boleh kah kita rasai kebahagiaan itu


bahagia

Sukar ku bayangkan tentang kebahagiaan. Sehingga aku tidak tahu apa itu kebahagiaan. Kebahagiaan yang melantun dari bibir2 manusia. Apa kah kebahagiaan itu berbentuk. Bersifat atau hanya sekadar sebuah perkataan? Namun itulah yang dikejar dan dicari oleh manusia. Tapi apakah manusia tahu apa yang dicarinya dan bagaimana mengapainya?

Manusia kalut dengan pencarian masing masing. Harta, pangkat kedudukan menjadi pilihan utama mereka mencari kebahagiaan. Sehingga terkadang mereka mengadai norma norma kehidupan sebagai seorang manusia untuk membeli kebahagiaan itu. Mereka cuba untuk menggunakan kebendaan itu untuk membeli segalanya. Membeli manusia, membeli perasaan manusia, membeli cinta, membeli kasih sayang hatta agama pun ingin mereka beli dengan kebendaan itu tapi sayangnya segala yang mereka beli itu akhirnya menambahkan penderitaan mereka.

Bagi ku, kebahagiaan itu cukup simple untuk difahami. Melalui pengalaman hidup. Aku telah merasai kesusahan yang teramat. Kehilangan kasih sayang yang memilu. Tapi pelik, jika kubandingkan kehidupan ku sekarang yang penuh dengan kemewahan dan dikasihi manusia sekeliling dan punya ramai kenalan dan teman, aku tidak merasai kebahagiaan seperti mana aku rasainya dahulu … Pelik kan.

Rupanya kebahagiaan ini tidak boleh dibeli dan tidak boleh dibandingkan. Ianya adalah ibarat embun yang disiramkan dikalbu kita. Dan ianya adalah sebuah kurniaan. Baru aku mengerti tidak ada sesuatu dalam hidup ini setara dengan kebahagiaan ruhani. Kebahagiaan ruhani itu bukanlah kita memasukan segala sifat sifat mahmudah dalam diri, atau kita berzikir jutaan kali atau pun bersolat sehingga hitamnya dahi atau berceramah yang mendapat ribuan puji atau pengikut kita yang setia menanti atau mutarabbi yang banyak yang kita kagumi tetapi kebahagiaan yang ku maksudkan adalah apabila kita dapat menanamkan dalam jiwa orang lain sikap ridha, penuh penghargaan dan percaya diri serta cita cita deen yang penuh ghairah.

Itulah kebahagiaan samawi yang menakjubkan dan bukanlah ia kebahagiaan aradhi. Itulah kebahagiaan yang berunsur samawi yang amat murni dan ditautkan dengan tabiat insani. Segala pengorbanan memberi kehidupan kepada orang lain itu lah kebahagiaan kerana didalam nya tersimpan balasannya sendiri yang tidak perlu diminta balasan dari luar kehidupannya. Ianya merupakan soal jiwanya sendiri dan tidak perlu sanjungan orang lain.

Aku tidak menyangkal adanya unsur unsur kebahagiaan lain pada diri manusia tetapi apakah kebahagiaan itu berkekalan?

Manusia terkadang berpura pura dengan dirinya bahawa dia telah dapat kebahagiaan pada dirinya tapi sebenarnya dia menghadapi suasana yang ghurur. Kejap dia rasa bahgia. Kejap dia rasa susah. Bila bersama teman teman dan rakan2, mutarabbinya atau keluarganya dia rasa dan dapat menghilangkan kedukaan itu tapi bila bersendiri, dia akan mengeluarkan mutiara2 jernih dikelopak matanya. Dia terkadang tidak tahu apa yang disusahkannya. Sebenarnya waktu itu dia memerlukan kebahagiaan itu. Mungkin kebahagiaan hati dan dirinya itu ada pada diri orang lain yang perlu digapainya dan diambilnya kembali. Memang haknya namun perlu sedikit rasa tawadhuk dan berfikiran terbuka dalam mengambilnya dan cara nya hanya dia saja yang tahu. Dia mengadu lagi pada yang Esa akan kesusahan jiwanya. Akan ujian yang telah diuji padanya agar Allah temankan dia. Namun terkadang makin lagi dia tertekan!

Dalam kita mengadu, kita juga perlu memuhasabah akan dosa dosa kita pada manusia. Memang kita tak terasa dan adakalanya kita tidak tahu kita berbuat dosa pada orang lain. Kita menyakiti hati hati mereka yang menyayangi kita dan terkadang kita terambil hak hak mereka. Kita mengecewakan mereka dengan sikap kita. dengan perilaku kita. Kita sentiasa menganggap diri kita terbaik dan diri kita sahaja yang betul sehingga ini membuatkan kita berasa takabur dan ego yang menambahkan lagi bebanan jiwa yang tidak tertanggung.

Dalam kita mencari kebahagiaan. Kita juga harus mencari penciptanya. Bila kita cuba mencari Allah. Kita akan ketemukan Dia dimana saja. Kita akan dapati sifat ihsan dalam diri. Dapat merasai ma’iyah itu. Maiyatullah. Kebersamaan bersamanya. Waktu berdiri. Duduk. Berbaring. Hatta waktu kita kecewa dengan penghidupan ini pun Dia sentiasa memandang kita dengan rahmatNya.

Itulah dia kehidupan kita. Kebahagiaan yang kita cari sebelum bertemu kebhagiaan hakiki. Masih banyak yang perlu kita lakukan dalam hidup ini. Janganlah kita liputi rasa sesal dengan kehidupan ini. Apa pun yang tertimpa kepada diri kita adalah kerana kezaliman kita pada diri kita sendiri sekalipun pada zahirnya kita menzalimi orang lain.

Pasrahlah kepada Allah dan mohonkan keampunan darinya terhadap segala perilaku kita. Insyaalah.

Ketemu lagi.

Muharrikdaie

7mlm Kuala Lumpur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: