Oh Iman dimana level mu sekarang?


iman yang benar

Kenyataan kita, adalah kita tidak tahu dimana level iman kita sekarang. Apakah kita telah mencapai halawatul iman atau masih tercari cari rentak keimanan. Pastinya kita semua ada turun naiknya. Tetapi sampai bila harus begitu!

Pada ilmu teorinya untuk mendapat halawatul iman seseorang harus memberikan mahabbahnya ~ kecintaan kepada Allah dan Rasulnya dengan sentiasa takmiluha~ menyempurnakan cintanya  Tafri’uha ~ mengembangkannya  hingga kecabang cabangnya dan Daf’u dhiddiha~ melawan hal hal yang bertentangan dengannya.

Bukan itu saja namun kecintaan kepada Allah dan Rasul harus lebih kita utamakan daripada Itsaruha ‘ala ‘aradhi-dunya ( godaan dunia ) dengan redha Allah sebagai Rabb. Islam sebagai deen. Muhammad sebagai Rasul. Dakwah dan tarbiyah sebagai jalan menuju Jihad.

Dan sekiranya itu telah benar benar telah kita hayati dan rasai dan berterusan dalam jiwa dan sanubari, Insyaalah pasti kita akan rasai Istildzatul-thaat atau menikmati amal amal ketaatan bahkan sehingga kita sanggup menghadapi cubaan dan dugaan dijalan Allah ini sebagai satu Istildzatu tahammulil masyaqqah yakni menikmati beban beban amal dan dakwah yang berat.

Sebenarnya memang mudah kita faham tentang iman ini dan bagaimana untuk merasa nikmat kemanisannya namun disebabkan kita tidak mendisiplinkan diri kita maka kita sukar untuk mujahadah dan merasa kenikmatannya. Kita suka mengambil ruksah ( kelonggaran ) pada diri dan meninggalkan azimah sehingga kita meringgan ringgan kan perkara sunnat dalam menghampiri diri kepada Allah. Jika perkara sunnat kita ringgankan, lama kelamaan pastinya kita jauh dari kasih sayang Allah. Sebagai hamba atau duat perkara ini sepatutnya menjadi wajib aradhi ( mendatang ) kepada kita walaupun dari segi hukum feqahnya adalah sunat tetapi untuk kita yang telah ditarbiyah, ia menjadi satu kewajipan yang tidak patut kita tinggalkan.

Akhi, kita harus sentiasa bercermin pada hati kita dan kena sentiasa menyempurnakan cinta kita pada Allah dengan sesempurnanya. Apalah ada nikmat kecintaaan itu kiranya hanya kita beri sedikit sahaja. Kita olok olokan. Allah adalah Allah. Bukan seperti manusia yang boleh kita olok olok kan cintanya. Kita permainkan perasaan nya. Kita mungkiri janji kita. Kerana permainan cinta kita kepada manusia tidak melibatkan iman dan turun naiknya atau jika serius nya hukuman yang kita dapati, kita hanya akan bertemu dgn manusia itu dimahsyar kiranya dia tidak mengampunkan dosa kita atas sikap kita. Tetapi permainan cinta kita dengan Allah melibatkan iman yang amat tragis.

Lembaran sejarah telah terhampar depan kita bahawa orang yang mendapat kemanisan iman adalah orang yang sentiasa mengutamakan kecintaan Allah dan dakwah serta jihad adalah orang yang menggunakan kesenangan dunia ini untuk tujuan itu. Mereka adalah orang yang tidak bersenang2 dengan keluarga. Tidak tinggal dirumah besar dan mewah sekalipun mereka kaya dan mampu. Meng contribute kan segala kekayaan, bisnes meraka untuk berbisnes dengan Allah. Meletakkan deen diatas harta pangkat dan kemewahan mereka. Inilah mereka! Apakah ini kita? Yang hanya mencari dalil untuk memuaskan nafsu?

Apakah yang mereka dapat dari mujahadah itu? Pastinya mereka dapat sifat REDHA. Dengan sikap redha itulah terbitnya jiwa jiwa halus, jiwa jiwa suci, jiwa jiwa tenang.  Dan keredhaan nya itu terbukti dengan selalu menghadiri halaqahnya walau pun beratus batu, walau berlitre litre minyak kereta dihabiskan dan cengkung matanya menahan ngantuk atau kebas pinggulnya kerana drive terlalu jauh. Dan keredhaan itu terbukti apabila terlibatnya mereka dengan kerja kerja dakwah dengan seriusnya. Tidak main main dan sambil lewa. Tidak hanya melepas batuk ditangga. Dan keredhaan itu terbukti apabila segala hartanya diinfaqkan kepada perjuangan dakwah dan jihad tanpa ungkit dan sesal dihati! Inilah natijah dari Allah. Natijah cinta yang abadi. Cinta, cinta dan cinta!

Akhi. Dimana kita? Dimana mujahadah kita? Dimana amal amal sunat kita? Dimana dakwah kita? Berpuluh tahun kita menapak dibumi ini. Apakah kesudahan kita. Masihkah kita keseorangan tanpa jamaah. Atau kita berjamaah tanpa tarbiyah. Atau telah ditarbiyah tanpa usaha untuk tarbiyah dzatiyah? Atau kita telah ikhlas dengan amal amal kita? Cukupkah level iman ini untuk kita menerpa disyurga Allah. Atau kita berjalan beribu batu mengharungi badai badai mahsyar dan peluh peluh lautan manusia yang tiada pantai. Mampukah kita berhadapan dengan semua orang yang kita kenal didunia melihat kita dengan kehebatan didunia, dengan tudung labuh, dengan jubah, dengan serban, dengan janggut dengan kayu sugi dengan tasbih tapi dimahsyar allah bukakan hati hati busuk kita, hati hati riyak kita, hati hati ujub kita, hati hati takabur kita. Allah telanjangkan semua sifat sifat mazmumah itu dihadapan keluarga kita dan teman teman kita. Malu kita akhi! Mereka akan bersorak dan meludah kita. Menghina kita. Malunya kita tidak terkata. Akhirnya, dimana kita akhi? Dimana kita? Dimana?

Oh Allah … Ampunkan dosa kami. Berilah kami iman yang sebenarnya sehingga kami tidak takut, hanya kepada mu saja Ya Allah. Ya Rabb.

Hanya zikirku sebelum tidur dan entry ini bukanlah ilmu yang tidak pernah antum dengar. Mudah2an bermenfaat untuk diriku.

Muharrikdaie ( Bergerak atau mati)

12.30mlm

3 responses to “Oh Iman dimana level mu sekarang?

  1. nuurhati June 15, 2009 at 1:16 am

    salam,

    satu situasi …

    bagaimanakah kiranya bila satu jiwa itu terlalu sarat dengan cintaNYa .. berbuah harapan dan kebergantungan … hingga satu tahap terasa aman … selesa … terlindung …

    bagaimana kiranya satu jiwa itu bila berlaku khilaf … terasa akan diampuni… terasa tidak terancam … bila saja dilakukan khilaf … jiwa itu taubat secepat mungkin… ya.. ada kekesalan.. namun tiada khauf … yang menyelubungi hanya roja’…

    bagaimanakah ingin menyelamatkan jiwa ini dari cair dalam roja’ hingga terpinggir khauf …

    jiwa ini risau …

    risau tiada rasa khauf…kerana jiwa ini sibuk memburu cintaNya hingga terlupa sifat yang wajar ada selayaknya seorang insan bergelar hamba…

    bagaimana ya ?

    wallahualam…

    • nuruddin83 June 15, 2009 at 1:46 am

      mmmm… btol gok tu… satu situasi yang ada benarnya..😕 kenapa terasa aman, hingga sukar merasa takut pada Tuhan yang juga Maha Menghukum… adakah ini nikmat, atau istidraj? Ya Allah… Aku berbaik sangka kepadaMu ya Allah.. Namun, aku jua perlu mengusahakan diriku untuk menangis, kerana takutkan siksaMu ya Ilahi, ya Rabbi…

  2. nuurhati June 15, 2009 at 1:16 am

    salam,

    satu situasi …

    bagaimanakah kiranya bila satu jiwa itu terlalu sarat dengan cintaNYa .. berbuah harapan dan kebergantungan … hingga satu tahap terasa aman … selesa … terlindung …

    bagaimana kiranya satu jiwa itu bila berlaku khilaf … terasa akan diampuni… terasa tidak terancam … bila saja dilakukan khilaf … jiwa itu taubat secepat mungkin… ya.. ada kekesalan.. namun tiada khauf … yang menyilubungi hanya roja’…

    bagaimanakah ingin menyelamatkan jiwa ini dari cair dalam roja’ hingga terpinggir khauf …

    jiwa ini risau …

    risau tiada rasa khauf…kerana jiwa ini sibuk memburu cintaNya hingga terlupa sifat yang wajar ada selayaknya seorang insan bergelar hamba…

    bagaimana ya ?

    wallahualam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: