Kerinduan itu menyadarkan …


bunga kemboja

Tiba tiba aku merindukannya
Ketika kurasa kematian kian menghampiriku
kematian yang menyegat hidungku
ketika aku pernah menyintainya
bahkan hingga sekarang cinta itu makin membuak ingin mengeluarkan laharnya
sehingga aku menoleh kebelakang berkali kali menghitung hari hari lalu
diperjalanan bersamanya ….

Airmata kerinduan ku mula memuntahkan jiwanya
lantas aku menghidupkan mobilku menerjah laju

Memang aku amat merindukannya
Apatah lagi dalam keadaan begini
Begini yang sunyi dan sepi
dari sentuhan keprihatinan seseorang padaku

Dimanakah ingin ku letakkan kerinduan ini kecuali padamu
pada ziarah rumahmu yang ditumbuhi rumput yang panjang
pada sampah bunga kemboja dan bunga tanjung yang berserakan

Dalam ziarah ini kuharap ku temukan sesuatu
Dengan mencium harum tanahnya ketika angin petang menyejukan sekujur tubuhku
dan sorot wajah mentari sekilas menatang pepohonan
baru ku tahu kerinduan aku
adalah kerinduan cinta,
yang pernah diisi cinta olehnya
yang kini cinta itu gersang dan kering tanpanya

Disitu dulu
cinta nya pernah ku tolak, cintanya kurosak
dengan tekanan hidup aku lari dari cintanya lalu
ia kecewa mendahului aku

Tidak ku sedar dari rahim itulah cintanya bermula
semuanya itu mengigatkan aku kembali keawal penciptaan ku
pastinya aku akan kembali seperti dia
menuju alam yang masih misteri dan rahsia
yg kuharap ada lorong yang penuh cahaya

Dalam keadaan begini
aku sedar
aku harus menanam sedalam mungkin kebaikan
dan membuang semua bentuk jahiliyah dalam ruang kamar hidupku

Semua ini mengigatkan aku akan rahsia umur dan perjalanan yang penuh misteri
yang aku tak tahu hari esok aku entah bagaimana

Disini juga aku tersadar bahawa tubuh itu pasti hancur dan jiiwa akan diterbangkan kelangit
dan hidup selamanya
dan bagaimana aku harus tidak memperindahkan hidup ini dengan kemewahan yang mengejar
dan cinta manusia padaku yang sebentar dan diam dengan egonya yang membakar

Aku tidak dapat berlindung lagi dari teriak tangis seperti dulu
kerana aku tidak lagi dapat berlindung dan menarik baju mu yang usang
mengadu masaalah ku dan jiwaku yang dipermainkan

Aku kini terpaksa menopang langkah ku sendiri
menerima nasib yang datang dari yang mengainiaya jiwaku
dan ketika akhir, alam akan kembali menyerahkan hidup kedalam kehendak jiwaku
sepenuhnya untuk menapak dijalannya …jalan sunyi

Ibu ayah ..
aku pulang dulu
pusara mu yang usang itu telah ku bersihkan tanda haruman kasihku
tahlil telah kuzikirkan tanda wanginya cintaku

Aku tahu engkau sunyi disana
dan aku juga sunyi disini
tanpa teman disisi untuk kita kongsi hidup ini

Namun
ibu ayah
kita ada Allah
untuk kita letakan cinta kita
yang paling abadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: