Sendiri menyepi


sendiri menyepi 2

Kita bisa berkata apa saja tentang diri kita.

Kita boleh buat apa saja untuk memotivasi diri.

Memujuk hati dan perasaan kita.

Kita boleh membaca Alquran sebanyak banyaknya untuk mensucikan jiwa dan menenangkan hati. Boleh membaca buku sebanyaknya. Tengok movie. Tengok Youtube. Serve internet. Dgr lagu. dgr nasyid. berborak dengan kawan dan sebagainya.

Tapi ….

kita harus akui!

Terkadang kita terasa amat sunyi.

Amat sepi. Sepi. Sesepi sepinya.

Hingga kita menangis sendirian. Tak tahu apa yang ditangiskan. Tak tahu apa yang dirisaukan dan digundahkan.

Kita rasa kehilangan. Kita rasa berada sayup sayup. Rasa ditinggalkan.Rasa kosong. Rasa kekurangan.

Kadang kita rasa jauh diawan, mencari hujan ditengah rembang. Hati ini jauh. Menjauh.

Duhai hati, kenapa begini?

Merenung sejenak disini. Ditempat ini. Dalam sunyi begini. Kita dapat rasakan hati kita telah tiada. Hati kita dibawa pergi. Entah kemana? Hanyut yang tiada kemudi. Kita bertatih mencarinya dan kita menanggis lagi …

Bukan kita tak ingat Allah.

Bukan kita tak berzikir.

Bukan kita tak sujud.

Bukan kita tak tahu hukum.

Namun kita rasa sepi lagi.

Memang terkadang kita hipokrit dengan diri.

Kita tak mengakui bahwa kita telah ‘ dilamun cinta‘. Cinta yang penuh keindahan. Cinta kepada seseorang!

Naluri kemanusiaan yang tidak boleh kita sorokkan dari realitinya.

Kita tidak berani mengakuinya.

Kita takut. Dosa. maksiat. Syaitan. Neraka!

Hingga kita hilang sifat ijabiyah ( posiitif )  dalam diri.

Kita negatifkan kehidupan kita. Jiwa kita. Perasaan kita hingga kita buta dengan anugerah. Tidak nampak asma’ Allah dengan penuh kecintaan.

Lupa adam dan hawa. Lupa Yusuf dan Zulaikha. Lupa Rasul dan aisyah. Lupa Hanzalah dan Jamilah. Gelap sekeliling ! kita dihantui oleh nostalgia jahiliyah kita. Biah biah yang tak solehah yang kita lalui dulu.

Kita hubungkan cinta dengan maksiat sehingga kita lupa akan cinta yang diredhai Allah.

Kenapa kita tidak terima cinta itu dan ciptakannya menjadi cinta yang diredhai?

Tidak salah kita memberi cinta dan tidak aib kita menerimanya asalkan berawal dan berakhir kerana Allah.

Asalkan cinta kita, kita ‘convert’ kan  kepada  cinta seorang pejuang yang menjadikan cinta mereka hanya kerana Allah!

Berhenti dititik ketaatan.

Meloncati kebencian pada kemaksiatan.

Hati kita akan menjadi tenang.

Menjadi terisi dan menjadi mekar andainya kita uruskan jiwa dan perasaan kita mengikut acuan Ilahi.

Buanglah sifat sifat negatif dalam diri.

Kita tiada masa lagi untuk bermain dengan perasaan sedang kerja dan misi dakwah menanti kita dengan penuh kesabaran.

Baitul Dakwah menanti kita menciptakannya dan mendambakan tuntunan kita.

Rijal rijal dialam ruh menunggu pertemuan ibu dan ayahnya dalam mengamit melambai dengan marak api perjuangan.

Bangunlah pasangan dakwah.

Kamu tidak boleh menjadi pungguk buta yang tidak akan nampak bulan selamanya!

Atau menjadi bulan yang terang tanpa makna.

Buktikan keberkesanan tarbiyah yang kamu lalui. Dan memang …

kamu tak boleh sendiri menyepi ….

الفقير إلى الل

muharrikdaie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: